Ibadah Print
Monday, 07 January 2008

Ruh sebuah pesantren di manapun adalah keyakinan bahwa persenyawaan antara intelektualitas dan spiritualitas adalah conditio sine qua non (realitas yang mutlak adanya) bagi upaya pencapaian kemashlahatan duniawi maupun ukhrawi bagi pribadi maupun masyarakat. Equilibrium (keseimbangan) antara ketiga unsur senyawa di atas; intelektualitas dan spiritualitas, kemashlahatan duniawi dan ukhrawi, serta kepentingan individu dan masyarakat, menjadi titik masuk dalam seluruh proses pembinaan para santri. Kesemuanya itu tetap berlandaskan jalan lurus ajaran Islam di bawah sinaran suluh assalafu assholih (para pendahulu nan bijak).

Proses pembinaan ini biasa disebut dalam tradisi pesantren sebagai suluk (upaya yang terus menerus) menuju pencapaian haqiqi sebagai muslim yang sempurna. Suluk dimaksud ditandai dengan situs pesantren yang membentuk garis linear yang dimulai dari bilik-bilik santri (sebagai tempat dimulainya kesadaran), langgar atau masjid (sebagai tempat pembinaan dan penggemblengan mental spiritual sekaligus intelektual) dan rumah atau dalem kiai (sebagai titik pencapaian kearifan dan kesempurnaan).  Seseorang yang hendak ”nyantri” maka ia harus memulainya dari kesadaran untuk berubah dan menerima segenap ajaran pesantren, untuk kemudian ditempa di langgar atau musholla dengan berbagai olah batin dan akal, hingga pada akhirnya diharapkan ia akan mencapai kearifan dan kesempurnaan sebagai muslim sebagaimana yang telah perankan oleh kiai.

Gambaran suluk di atas sekadar metafora untuk menegaskan betapa sistem pendidikan pesantren dikonstruksikan sedemikian rupa untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang mempunyai bekal ketaqwaan yang paripurna, bekal intelektual yang bermanfaat dan kesanggupan untuk menerima amanat da’wah Islamiyah. Proyeksi pembinaan demikian dijalankan dalam naungan kearifan tradisional yang diwariskan oleh para pendahulu nan bijak sebagai khazanah yang genuine khas pesantren.

Demikian pula yang dijalankan dalam sistem ma`hadiyah Pondok Pesantren Salafiyah. Proses pembinaan mental spiritual yang dijalankan dalam program-program ma`hadiyah adalah perimbangan dan persenyawaan dengan pembinaan intelektualitas yang dijalankan melalui program-program madrasiyah. Orientasi penuh program-program ma`hadiyah terletak pada proses pendisiplinan para santri dalam menjalankan suluk di atas. Sehingga terjadi internalisasi yang terus menerus terhadap segenap praktek-praktek ibadah dan sikap mental yang telah diwariskan secara turun temurun oleh assalafu assholih.

PROGRAM KEGIATAN

IBADAH

Seluruh santri diwajibkan menjalankan sholat maktubaat (sholat wajib) secara berjama`ah. Waktu-waktu yang ditetapkan untuk melaksanakan sholat berjama`ah ini menjadi standar bagi pelaksanaan program-program ma`hadiyah lainnya, hingga seluruh kegiatan ma`had tidak bertabrakan dengan waktu-waktu sholat berjama`ah. Tidak hanya itu, dalam pelaksanaan sholat berjama`ah, segenap santri diwajibkan pula membaca awrad (wirid-wirid), qashaid (pujian-pujian) dan menjalankan berbagai ibadah sunnah yang ditetapkan, baik sebelum maupun sesudah sholat berjama`ah. Hal ini dimaksudkan di samping untuk memupuk kedisiplinan dalam beribadah dan membiasakan melakukan ibadah-ibadah sunnah, yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengisi ruang-ruang batin segenap santri dengan dzikir dan sikap berserah diri hanya kepada Allah swt dalam situasi dan kondisi apapun.
   

 
Ilmu tanpa kertas adalah sirna
Dan rahasia melebihi dua orang adalah tersiar.
 

Menu Komunitas


 
PEMBERITAHUAN: Sehubungan dengan banyaknya penipuan untuk meminta sumbangan dengan mengatasnamakan Nadhir, Ustadz dan Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, maka dengan ini kami beritahukan bahwa, Nadhir, Ustadz dan Keluarga besar pondok Pesantren Salafiyah tidak pernah meminta sumbangan kepada pihak manapun dan berupa apapun, kecuali dilakukan sendiri oleh nadhir mahad Salafiyah (KH. M. Idris Hamid dan KH. Ahmad Taufiq Aqib). | Gabung di Facebook Salafiyah di salafiyahpasuruan@yahoo.com
ame268