| BADAR, PERANG PENENTUAN BAGI UMAT ISLAM |
|
| Written by admin2 | |
| Wednesday, 20 January 2010 | |
|
Begitu banyak kitab yang menceritakan perang Badar, perang paling spektakuler dan cukup fenomenal dalam dunia Islam ini begitu membekas dan selamanya takkan terhapus dalam memori kaum muslimin. Bagaimana tidak, perang dengan jumlah pasukan tak sebanding dan peralatan perang ala kadarnya ini ternyata mampu meluluhlantakkan kebiadapan orang-orang kafir. Tercatat, ketika itu umat Islam maju dengan kekuatan 313 orang, sedangkan musuh-musuh Allah itu berjumlah kurang lebih 1000 orang. Sungguh pemandangan perang yang tidak seimbang dan cukup memprihatinkan.
Cerita singkat di atas memanglah certatat sebagai peristiwa yang paling menghebohkan sekaligus sarat dengan hikmah dan sejuta pelajaran. Tugas kita selaku generasi para pejuang Badar dalam mensyiarkan agama Islam adalah bukan cuma sekedar memperhatikan atau menyimak sejarah kemenangan Islam tersebut. Kita harus mencari pelajaran apa yang diberikan Allah dalam peristiwa yang cukup memacu adrenalin kaum muslimin saat itu. Dari berbagai leteratur yang berhasil penulis dapatkan, setidaknya perang Badar di sini memuat beberapa pelajaran atau hikamah penting yang patut kita ketahui, diantaranya: Keberanian dan tekad yang kuat. Ketika anda membayangkan jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit sekali ketika di medan pertempuran tersebut, bisa di bilang satu orang muslim harus mengalahkan tiga orang kafir. Jika dihitung dengan matematika, kita mengatakan tentara Islam saat itu akan hancur dan pasti kalah. Hal semacam ini sah-sah saja dan cukup logis. Akan tetapi kita juga harus ingat, bahwa jumlah sedikit ataupun banyak sekalipun, tidak bisa memberi jaminan kemenangan. Kita tahu yang berhak memberi kemenangan itu bukan besar-sedikitnya jumlah orang, akan tetapi semuanya takdir dan kekuasaan Allah-lah yang menentukan. Berangkat dari kata-kata “Barang siapa yang mau menolong agama Allah, maka ia akan ditolong oleh Allah SWT”. Umat Islam saat itu yakin sekali, meskipun jumlah mereka sedikit, akan tetapi karena niat mereka tidak lain hanya ingin memperjuangkan agama Allah, maka di saat itulah mereka yakin bahwa bantuan Allah akan datang untuk menolong hamba-hambanya yang sedang berjuang di jalannya. Keberanian dan tekad yang kuat inilah yang menyebabkan umat Islam saat itu mendapat apresiasi dari Allah SWT dengan memenangkannya di medan pertempuran. Tingginya iman kaum muslimin. Beginilah memang seharusnya kondisi iman kaum muslimin di saat agama mereka mendapat godaan atau ancaman dari musuh-musuh Allah. Mereka akan saling bahu-membahu untuk mempertahankan ajaran rosulnya nabi Muhammad SAW meskipun harus mengorbankan nyawa, harta benda, dan anggota keluarganya. Ketika perang Badar berkecamuk, yang ada dalam pikiran sahabat nabi tidak lain adalah bagaimana caranya mengalahkan 1000 bala tentara musuh, dan mereka yakin, bahwasannya Allah akan memberikan surga bagi orang-orang yang selalu memperjuangkan agama-Nya. Dan bagi mereka, lebih baik mati dari pada harus menjual iman dan agama mereka. Figur sang pemimpin. Inilah contoh figur seorang pemimpin yang patut ditiru oleh pemimpin-pemimpin zaman sekarang. Kemenangan umat Islam pada perang Badar juga tak lepas dari peran nabi Muhammad selaku komandan. Dengan strategi jitu dan terencana, pasukan Islam berhasil mencabik-cabik serta menerobos pertahanan lawan dan berhasil memenangkan dahsyatnya peperangan. Sang komandan bukannya di belakang atau malah bersembunyi saat peperangan berlangsung. Beliau tampil gagah berani dan terus menyemangati para prajuritnya. Tak pernah terbesit sedikitpun rasa takut dan kalah pada diri nabi. Sehingga dengan melihat kondisi nabi seperti itu, para sahabat juga semakin gencar melakukan serangan demi serangan, hingga pada akhirnya merekapun berhasil mengalahkan kecongkaan musuh-musuh Allah tersebut. Ketegasan sikap sang komandan. Di saat akan berlangsungnya perang Badar, sebagian sahabat ada yang bertanya kepada nabi, “wahai rosu!, sesungguhnya di antara mereka (orang kafir) terdapat orang-orang yang juga mengucapkan kalimat syahadat (orang Islam), bagaimana ini? Apakah kita juga harus memerangi dan membunuh mereka?” Dengan tegas rosulallah menjawab, “ siapapun dia, tatkala memihak pada musuh, apalagi mau membantunya, maka tidak masalah bagi kita untuk membunuhnya”. Dengan sikap tegas rosul inilah, para sahabat kemudian mengambil langkah serta tidak canggung lagi membunuh orang Islam yang sudah berkhianat dan membela musuh-musuh Allah tersebut. “Man jadda wa jada” Seseorang siapapun dia, jika mau bersungguh-sungguh, maka ia akan menuai apa yang ia inginkan. Barangkali faktor inilah yang juga menjadi penyebab kemenangan kaum muslimin saat perang terjadi. Mereka tidak pernah merasa putus asah, gentar, takut, dan grogi ketika menghadapi jumlah musuh yang begitu banyaknya. Mereka malahan yakin, bahwa usaha mereka akan dibayar mahal oleh Allah SWT, apalagi dalam hal ini, mereka berjuang untuk mempertahankan agama Islam yang tak lain adalah agama yang mendapat ridlo Allah SWT. Ke lima hal di atas akan sangat baik jika kita bisa menerapkannya dalam realita kehidupan yang kita jalani. Meskipun peperangan demi peperangan telah lewat, bahkan kitapun tak pernah merasakan bagaimana hawa panas di medan pertempuran, bukan berarti kita tidak bisa mencover ke lima hal di atas dalam kehidupan nyata. Jiwa assyuja’a (pemberani) harus dimiliki setiap individu. Berani bukan hanya pada kondisi perang saja, akan tetapi jika ditarik makna yang lebih luas, berani menghadapi tantanagn hidup, berani untuk gagal, berani menghadpi diri sendiri, mungkin juga termasuk dalam katagori ini. Iman yang kuat, menjadi seorang pemimpin yang bijak dan adil, serta usaha yang keras, adalah hal yang patut diperhatikan, serta menjadi poin yang urgent dalam menjalani kehidupan. Iman adalah urusan kita dengan Allah SWT, pemimipin yang bijak dan adil adalah kedudukan yang membuat anda memiliki derajat tinggi di hadapan Allah, serta menjadikan anda mulya dan dihormati oleh semua orang, sedangkan usaha atau ikhtiar adalah kewajiban yang harus dimiliki oleh seseorang. Hal ini tidak lain, tanpa usaha, seseorang tidak akan pernah merasakan manisnya iman kepada Allah, apalagi mendapatkan kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin. Maka dari itu, cobalah anda mulai dari sekarang untuk bisa merealisasikan ke lima “oleh-oleh” berharga dari perang Badar tersebut. Dan yakinlah, meskipun anda tidak merasakan kemenangan seperti yang dialami oleh sahabat Badar, setidaknya anda akan memperoleh kebahagiaan dan kesenangan di sisi lain dari kehidupan ayang anda jalani. [Fajar @l-Sundawy] |
| Next > |
|---|